Masih Tentang Kamu
Hari silih berganti, minggu berlalu menjadi bulan. Dan entah sudah berapa lama kau pergi.
Namun rinduku tetap tak mengenal waktu — ia tumbuh diam-diam di antara malam yang sunyi, di antara doa-doa yang tak lagi tersampaikan.
Aku masih mengingat suaramu, caramu tertawa, bahkan kesimpulanmu yang selalu membuat dunia terasa tenang. Kini semua itu tinggal kenangan yang berulang dalam pikiranku, seperti lagu lama yang tak pernah bosan diputar hati.
Kadang-kadang aku berpura-pura baik-baik saja, tersenyum di hadapan dunia, padahal di dalam dada ada hampa yang tak bisa kutambal dengan apa pun. Aku masih menunggu, meski tak tahu apakah kau masih akan kembali.
Setiap senja datang, aku menatap langit, berharap kau juga melihat warna yang sama di tempatmu. Karena hanya itu yang kini bisa menyatukan kita — langit yang sama, kerinduan yang tak pernah selesai.
Mungkin aku terlalu bodoh karena masih menanti. Tapi bagaimana bisa berhenti, jika setiap hembusan angin selalu membawa namamu?
Aku hanya perempuan yang masih mencintai, meski waktu terus memaksaku untuk melupakan. Namun bagaimana mungkin aku bisa lupa, jika sebagian jiwaku masih tinggal bersamamu?
Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya — aku masih berbisik pelan ke udara,
“Kembalilah, meski hanya dalam mimpi.”
Comments
Post a Comment