Matahari Terbenam Itu Begitu Indah, Sama Seperti Dirimu

 

Ada yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata saat memandang matahari perlahan tenggelam di ujung cakrawala. Cahaya jingga yang menyebar di langit sore, seakan mengusap pelan luka-luka yang tersembunyi dalam hati. Aku berdiri diam, terpaku menatap keindahan yang tak abadi itu, dan entah kenapa, bayanganmu selalu hadir di antara semburat senja. Seperti senyummu — tak terang menyilaukan, tapi hangat dan menenangkan.

 

Kau tahu? Senja mengajarkanku tentang keikhlasan: bahwa yang indah tak selalu bisa digenggam selamanya. Ia hanya singgah sebentar, meneduhkan, lalu perlahan menghilang di balik malam. Sama sepertimu. Hadirmu tak lama, tapi meninggalkan jejak yang tak mudah dilupakan. Bahkan saat kau pergi, aku masih merasa ada bagian dari dirimu yang tertinggal di hatiku, seperti cahaya senja yang membekas di langit meski matahari telah benar-benar menghilang.

 

Aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai senja — bukan karena ia abadi, tapi karena ia tulus dalam ketidakteraturannya. Karena ia mengajarkan bahwa sesuatu yang indah tak harus selalu dekat, cukup bisa dikenang dengan damai. Dan kamu, dengan segala diam dan cahayamu, telah jadi senja yang paling aku rindukan.

 

Aku pernah berharap, bahwa suatu saat kita bisa menua bersama sambil menatap langit jingga, saling bercerita tentang hari-hari yang penuh perjuangan. Tapi waktu kadang memilih arah lain, dan aku harus belajar menyimpan rindu dalam diam. Namun satu hal yang tak akan pernah berubah: setiap aku menatap matahari terbenam, aku akan selalu mengingatmu —

karena matahari terbenam itu begitu indah, sama seperti dirimu.

 -Dear you-

Comments

Popular Posts