Dariku, Untukmu
Aku menulis lagi malam ini,
bukan karena aku ingin kembali,
tapi karena ada sesuatu yang belum sempat kusampaikan —
sesuatu yang selama ini hanya berputar di dalam dada,
tanpa pernah menemukan tempat untuk pulang.
Kau tahu, setiap kali aku menulis,
aku seperti berbicara padamu dalam diam.
Setiap huruf adalah hembusan napas rindu yang kutahan,
setiap titik dan koma adalah jeda yang kutemukan
di antara perasaan yang tak pernah selesai.
Aku menulis tentangmu bukan karena aku tak bisa melupa,
tapi karena kau pernah menjadi bagian dari hidupku
yang terlalu indah untuk dihapus begitu saja.
Aku menulis agar aku tak lagi terbebani oleh kenangan,
agar rasa ini bisa hidup dengan cara yang lebih tenang —
dalam kata, bukan lagi dalam luka.
Masih ingatkah kau,
bagaimana dulu aku menceritakan segalanya padamu?
Tentang hari-hariku yang sederhana,
tentang mimpi-mimpi kecil yang selalu kubagi bersamamu?
Kini, aku masih bercerita,
tapi lewat tulisan yang takkan pernah sampai padamu.
Tulisan yang kubuat dengan hati yang pernah kau genggam,
dan kutinggalkan di antara baris kalimat yang hanya aku yang mengerti.
Aku tidak tahu apakah kau masih memikirkanku,
atau mungkin sudah lama lupa.
Tapi biarlah — aku tak menulis untuk diingat,
aku hanya ingin mengenang dengan cara yang lembut,
tanpa air mata, tanpa amarah, tanpa harap.
Hanya ada aku, dan kisah yang pernah kita punya.
Malam semakin larut,
dan di luar sana, angin berbisik membawa dingin yang lembut.
Aku masih duduk di meja ini, menatap kertas yang mulai penuh,
dan di antara kata-kata yang mengalir,
aku menyadari sesuatu —
bahwa mencintaimu pernah menjadi hal paling jujur yang kulakukan.
Kini, aku menulis bukan untuk membuatmu kembali,
melainkan untuk mengingat siapa aku sebelum perpisahan itu datang.
Sebab sebagian dari diriku pernah hidup dalam dirimu,
dan lewat tulisan inilah aku mencoba mengambilnya kembali,
pelan-pelan, tanpa menyakiti siapa pun.
Mungkin suatu hari nanti,
kau akan menemukan tulisan ini — entah di dunia nyata,
atau di antara baris-baris doa yang tak sengaja menyebut namamu.
Jika saat itu tiba, bacalah perlahan,
dan rasakan bahwa di balik setiap kata,
ada aku yang masih mendoakanmu dengan cara paling sunyi.
Jadi, biarlah tulisan ini menjadi saksi,
bahwa aku pernah mencintaimu dengan cara yang sederhana,
dan kehilanganmu dengan cara yang teramat tenang.
Karena ada cinta yang tidak perlu dimiliki,
cukup disyukuri karena pernah ada.
Dan tulisan ini… adalah caraku menjaga sisa cintaku,
agar tak hilang begitu saja oleh waktu
Dariku,
yang pernah mencintaimu dengan diam,
yang menulis bukan karena ingin dikenang,
tapi karena hanya lewat tulisanlah aku bisa masih bersamamu—
meski hanya dalam kenangan yang tak lagi berpihak.
Dariku, untukmu.
Yang pernah menjadi rumah bagi segala kata dan rasa,
yang kini hanya bisa kusapa lewat tulisan,
dan kusimpan dalam hati.dan
Dariku, untukmu.
Bukan untuk dibaca,
tapi untuk dirasakan... di antara rindu yang tak pernah usai.
Comments
Post a Comment