Rindu yang Berdoa
Malam kembali datang,
membawa sunyi yang tak pernah benar-benar pergi.
Dan di antara detak waktu yang pelan,
ada aku — masih duduk dalam diam,
menyebut namamu perlahan,
bukan dengan suara,
melainkan dengan doa yang tak pernah selesai.
Aku belajar,
bahwa tidak semua rindu harus disampaikan,
tidak semua kehilangan harus disesali,
dan tidak semua yang pergi harus dikejar.
Ada yang cukup diserahkan pada Tuhan,
seperti caraku menyerahkanmu,
bersama sisa-sisa harap yang dulu kita tanam bersama.
Rindu ini aneh,
ia tidak lagi menuntut hadirmu,
tidak lagi menangis karena jarak,
tapi ia tumbuh menjadi sesuatu yang lembut,
seperti doa yang menenangkan malam.
Ia duduk di antara harap dan ikhlas,
berdoa agar kau baik-baik saja,
bahagia di setiap langkahmu,
meski bukan aku yang berjalan di sampingmu.
Ada waktu di mana aku ingin berhenti merindu,
namun setiap kali aku mencoba,
Tuhan justru mengingatkanku,
bahwa rindu bukan untuk dihapus,
tapi untuk dijaga — dengan sabar,
dengan doa,
dengan cinta yang tidak menuntut apa-apa.
Maka kini,
setiap kali aku menengadah,
aku tidak lagi meminta agar kau kembali,
aku hanya memohon,
semoga Tuhan menjaga orang yang pernah membuatku percaya
bahwa cinta bisa seindah itu.
Dan jika suatu hari nanti,
angin malam menyapa pipimu dengan lembut,
mungkin itu rinduku,
yang berkelana jauh hanya untuk memastikan
kau masih baik-baik saja di sana.
Sebab rindu ini sudah tahu caranya berdoa,
ia tidak lagi menangis,
ia hanya bersujud —
dalam hening yang panjang,
menitipkan namamu pada Tuhan,
dengan cara yang paling tenang,
dan paling tulus yang pernah aku miliki.
Comments
Post a Comment