Saat Rindu Tak Lagi Bisa Pulang

 Malam kembali datang,

membawa sepi yang entah untuk keberapa kalinya menemaniku.

Dan di antara senyap yang panjang,

ada aku — masih menyebut namamu perlahan,

bukan dengan suara,

melainkan dengan doa yang tak pernah selesai.


Hai…

Apakah kau masih mengingatku?

Atau barangkali aku hanya tinggal bagian kecil dari masa lalumu

yang perlahan memudar di antara banyak hal yang kau lalui kini?

Aku tak tahu bagaimana kabarmu di sana,

apakah kau baik-baik saja?

Atau sama sepertiku,

masih berjuang berdamai dengan kehilangan yang tak ingin datang.


Aku rindu.

Rindu kita.

Rindu tawa dan candamu yang dulu menjadi rumah bagi hatiku.

Namun aku tahu,

kini kau baik-baik saja tanpa aku,

dan itu sudah cukup bagiku —

meski sedikit dari diriku hancur setiap kali menyadarinya.


Setelah kepergianmu,

hari-hariku terasa hampa,

seperti langit tanpa bintang,

seperti lagu tanpa nada.

Aku sering mencoba melupakanmu,

tapi setiap kali aku berhasil,

rinduku justru datang lagi —

lebih dalam, lebih menyakitkan.


Aku kehilangan diriku sendiri

saat berusaha menemukanmu di tempat yang tak lagi sama.

Mungkin memang begitulah takdirnya,

kau datang untuk membuatku mengenal rasa,

lalu pergi agar aku belajar tentang kehilangan.


Hari berganti minggu,

minggu berganti bulan,

dan aku masih di sini —

berdiri di tempat yang sama,

menatap kenangan yang tak kunjung pudar.

Kadang aku bertanya pada Tuhan,

apakah kau memang diciptakan

untuk hanya menjadi persinggahan dalam hidupku?

Atau aku yang seharusnya tak berharap lebih dari sekadar pertemuan singkat itu?


Namun kini aku mengerti,

sejak kepergianmu, aku mulai menulis.

Pada kertas-kertas kosong,

kutumpahkan semua yang tak sempat terucap.

Tentang rinduku, tentang lukaku,

tentang aku — yang masih mencintaimu dalam diam.


Dan jika suatu saat nanti tulisan ini sampai padamu,

ketahuilah…

ini adalah caraku mencintaimu.

Bukan dengan genggam tangan,

tapi dengan doa yang diam-diam menyebut namamu di setiap malam.


Setiap bait yang kutulis adalah hatiku,

yang perlahan belajar merelakan,

namun tak pernah benar-benar melupakan.


Untukmu,

yang kini hanya sebatas kenangan.

Yang pernah datang,

dan meninggalkan jejak yang tak akan pernah hilang.

Dariku,Untukmu.
rosiana_

Comments

Popular Posts