Seperti Matahari Terbenam

 Aku masih di sini — di tempat yang sama, memandangi langit yang perlahan berubah warna.

Setiap sore aku menunggumu, seperti langit menunggu matahari pulang, meski tahu yang datang hanyalah senja.

Ada rindu yang tak pernah padam, meski waktu terus berjalan.
Aku menunggu, bukan karena berharap kau kembali, tapi karena hati ini belum bisa berhenti mencintai.
Seperti laut yang tak pernah bosan menunggu mentari tenggelam di pelukannya,
aku pun tak lelah menantimu, meski yang datang hanya bayangan dan kenangan.

Kau tahu? Menunggu itu bukan perkara mudah.
Rasanya seperti menatap jingga yang kian memudar — indah tapi menyakitkan.
Namun entah mengapa, aku selalu menanti, seolah setiap senja membawa kemungkinan kecil bahwa kau akan muncul di antara warna langit yang pudar.

Dan ketika matahari benar-benar hilang di ufuk barat, aku masih tetap di sini,
menyebut namamu pelan, berharap angin senja menyampaikannya padamu.

Kau tetap jadi matahariku —
yang kutunggu, meski kutahu, tak akan pernah kembali dengan cara yang sama.

Comments

Popular Posts