Teruntuk Kamu
Teruntuk kamu,
yang pernah aku sebut rumah,
tempat di mana segala letihku berhenti dan segala risauku menemukan tenang.
Kini, namamu hanya tinggal gema — samar, tapi masih jelas terdengar di setiap kesunyian malamku.
Aku masih mengingat bagaimana semuanya bermula.
Tatapan pertama, percakapan sederhana, tawa kecil yang terasa biasa —
tapi tanpa kusadari, semua itu menanam sesuatu di dadaku.
Sesuatu yang tumbuh tanpa izin, hingga akhirnya menjelma menjadi cinta.
Aku mencintaimu dengan cara yang sederhana,
tanpa banyak kata, tanpa banyak janji,
hanya ingin menjadi seseorang yang kamu butuhkan saat dunia tak berpihak padamu.
Tapi ternyata, yang sederhana pun bisa terasa rumit saat tidak lagi sama.
Kini aku hanya bisa menatap dari jauh,
melihatmu tampak baik-baik saja,
sementara aku masih berusaha meyakinkan diri bahwa kehilanganmu bukan hukuman,
melainkan cara semesta mengajarkan ikhlas yang sebenarnya.
Ada malam-malam di mana aku masih mencari namamu di antara pesan lama,
menyusuri jejak percakapan yang dulu hangat,
hanya untuk merasakan sedikit sisa dari yang sudah pergi.
Dan di sana, aku selalu menemukan diriku sendiri —
masih berharap pada sesuatu yang tidak akan kembali.
Teruntuk kamu,
aku tidak menyalahkanmu atas kepergian itu.
Mungkin memang begini jalannya:
kita dipertemukan untuk saling mencintai,
lalu diuji untuk saling melepaskan.
Meski begitu, ada bagian dari diriku yang tetap ingin kamu tahu —
bahwa tidak ada hari berlalu tanpa aku mengingatmu,
meski kadang aku pura-pura lupa.
Dan tidak ada doa yang lebih tulus dari yang aku bisikkan dalam diam,
agar kamu selalu bahagia, bahkan jika bahagiamu bukan lagi bersamaku.
Teruntuk kamu,
yang pernah membuatku percaya pada cinta,
terima kasih sudah datang,
meski akhirnya kamu juga pergi.
Aku akan terus belajar,
bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki,
dan melepaskan pun bisa menjadi bentuk cinta yang paling tulus.
Jadi, jika suatu hari nanti kamu membaca ini,
ketahuilah…
aku pernah mencintaimu dengan seluruh hatiku,
dan meski kini hanya tersisa luka,
aku tidak menyesal pernah memilikimu —
meskipun hanya sebentar,
meskipun hanya dalam kenangan.
Dariku,Untukmu.
rosiana_
Comments
Post a Comment