Cinta Yang Tumbuh Di Dalam Doa
Sudah lama rasanya kamu tidak lagi bersamaku,
tapi satu hal yang masih bertahan hingga kini:
aku masih mencintaimu, dengan cara yang tidak pernah kupahami.
Perasaan yang seharusnya pudar bersama waktu,
justru tumbuh semakin kuat,
seakan waktu sendiri pun menyerah mencoba menghapusmu
dari dada yang terlalu setia menyimpan namamu.
Aneh, bukan?
Aku yang seharusnya sudah pergi,
aku yang seharusnya sudah sembuh…
malah kembali jatuh cinta pada bayanganmu—
berkali-kali, tanpa jeda.
Seolah hati ini tidak pernah lelah
mencari alasan baru untuk tetap memilihmu,
meski aku tahu kamu bukan lagi rumah
yang bisa kuletakkan pulangku.
Lucu, ya…
kamu mampu membuatku jatuh cinta tanpa pertemuan,
tanpa tatap,
tanpa pernah benar-benar menggenggamku.
Kita bahkan tak sempat menyatukan langkah,
tapi entah mengapa hatiku selalu menemukanmu
di tempat-tempat yang bahkan tidak kamu singgahi.
Hanya dengan kenangan kecil yang samar,
hanya dengan nama yang pelan terlintas,
aku sudah kembali tenggelam dalam rasa
yang kupikir sudah lama mati.
Dan begitulah cintaku sekarang—
cinta yang hidup dalam pelan,
dalam sunyi,
dalam doa yang tak pernah kau dengar.
Aku mencintaimu dengan diam,
seperti seseorang yang menjaga api kecil
agar tidak padam oleh angin,
meski ia tahu nyalanya
tidak pernah cukup untuk menghangatkan orang yang ia cinta.
Tapi semakin aku berdoa,
semakin aku menyebut namamu pada Tuhan,
semakin dalam aku tenggelam dalam rasa
yang tidak pernah kumaksudkan untuk tumbuh.
Ada getar yang tidak pernah hilang,
ada hangat yang tidak pernah pergi,
dan ada rindu yang selalu menemukan cara
untuk kembali ke dadaku
meski berkali-kali aku mengusirnya.
Dan jatuh cinta padamu adalah pilihanku.
Sungguh.
Bahkan jika aku diberi kesempatan untuk mengulang semuanya—
dari luka, kebahagiaan singkat,
hingga kehilangan yang membuatku hampir menyerah—
apakah aku akan jatuh cinta padamu lagi?
Jawabannya: iya.
Tanpa ragu.
Tanpa berpikir dua kali.
Aku akan tetap memilih jatuh cinta padamu,
karena jatuh cinta padamu
adalah pilihan paling indah yang pernah kurasakan.
Yang paling tenang,
di antara riuh dan sesaknya dunia.
Mungkin cinta ini tidak akan pernah menjadi nyata,
mungkin kamu tidak akan pernah datang kembali,
mungkin kamu bahkan tidak pernah tahu
betapa besar kamu tinggal di dalam diriku.
Tapi selama aku masih bisa menitipkanmu dalam doa,
selama Tuhan masih mengizinkan namamu
melintas di bibirku tanpa menyisakan pedih,
maka aku akan terus mencintaimu seperti ini—
dengan jalanku sendiri,
dengan caraku sendiri,
tanpa menuntut apa pun darimu.
Karena ada beberapa cinta
yang lahir bukan untuk menggenggam,
tetapi untuk diam-diam menguatkan.
Cinta yang tidak meminta balasan,
tidak menagih kepastian,
dan tidak marah pada jarak.
Cinta yang cukup tumbuh dalam dada,
menjadi alasan untuk terus hidup,
meski ia sendiri tak pernah kembali pulang.
Dan mungkin…
kamu adalah cinta seperti itu bagiku—
cinta yang tidak kumiliki,
tapi tetap kupeluk dalam doa
setiap kali rinduku mencari tempat berlabuh.
Comments
Post a Comment