Doa yang Masih Menyebut Namamu

 Aku berdoa pada Tuhan, memintanya untuk menjagamu, melindungimu agar kau baik-baik saja di sana.

Meski jauh, meski aku tak lagi bisa menggenggammu, aku percaya Tuhan akan senantiasa menggenggammu saat kau terjatuh dan terpuruk.

Dan di antara jeda doa yang lirih itu, ada namamu yang selalu kembali, seperti sesuatu yang tak pernah berhasil benar-benar aku lepaskan. Aku tahu, aku tidak lagi menjadi rumahmu—mungkin bahkan bayangan pun tidak. Tapi entah mengapa, setiap kali malam mulai sunyi dan dunia perlahan memejam, hatiku tetap mencari-cari kabarmu, seperti kebiasaan lama yang enggan sembuh.

Aku masih memikirkanmu dengan cara yang tidak lagi menuntut apa pun… hanya memastikan bahwa semesta memperlakukanmu dengan lembut. Aku berharap, ketika hujan turun, kau menemukan hangat. Ketika beban terasa terlalu berat, ada sesuatu yang memapahmu. Ketika dunia tidak berpihak, Tuhan menguatkanmu dengan cara yang tak terlihat.

Kadang aku bertanya pada diri sendiri, kenapa rasa ini tidak juga pudar? Kenapa aku masih menaruh takut pada hal-hal yang bisa menyakitimu, padahal yang tersisa dari kita hanya kenangan yang digigit waktu? Tapi mungkin begitulah cinta yang tulus… ia tidak menuntut untuk kembali, ia hanya ingin memastikan kau tidak hancur meski aku tak lagi ada di sana untuk menata kepinganmu.

Jika suatu hari nanti kau merasa sendirian, aku berharap ada angin yang singgah ke jendela dan membisikkan betapa berharganya dirimu, betapa kuatnya kau bertahan sejauh ini. Dan bila suatu saat kau hampir menyerah, semoga ada cahaya kecil yang menuntunmu pulang, meski bukan lagi pulang padaku.

Aku tidak meminta Tuhan membawamu kembali. Tidak.
Aku hanya meminta-Nya menjagamu dengan cara yang aku tidak lagi bisa.
Karena meski waktu telah memisahkan kita, rasa sayangku masih memilih tinggal, diam, dan terus mendoakanmu…
dari jauh yang pelan-pelan mulai aku terima,
namun belum sepenuhnya mampu aku ikhlaskan.

Comments

Popular Posts