Pesan terakhir
"Kamu jaga diri baik-baik, ya."
Kalimat yang terdengar sederhana, tapi entah mengapa, begitu menancap di hatiku.
Ada sesuatu dalam nada suaramu saat mengucapkannya — lembut, tenang, tapi juga terasa seperti perpisahan yang tak terucap.
Sejak saat itu, kalimat itu terus bergema di kepalaku,
berputar pelan di antara sepi dan ingatan yang tak mau pergi.
Seolah menjadi pelukan diam yang kau tinggalkan,
sebelum langkahmu benar-benar menjauh dari hidupku.
Aku tak sempat membalas dengan kata seindah itu,
tak sempat bertanya apakah kau akan kembali,
atau mungkin memang tak berniat lagi menoleh ke belakang.
Kini aku paham… mungkin itu caramu berpamitan,
tanpa harus mengucapkan “selamat tinggal” yang terlalu menyakitkan.
Kau memilih meninggalkan doa, bukan luka —
dan aku berterima kasih untuk itu.
Pesan terakhirmu kini menjadi doaku setiap malam.
Setiap kali aku merasa runtuh, aku teringat pesan itu.
Aku berbisik dalam hati,
“Aku baik-baik saja, seperti yang kamu minta…”
Meski sebenarnya, tak selalu begitu.
Ada malam-malam di mana aku rapuh,
di mana aku ingin menyerah pada kenangan,
tapi aku bertahan — karena aku tahu, kamu pasti ingin aku tetap kuat.
Aku belajar untuk menata ulang hidupku,
menyembunyikan rindu di balik senyum yang pura-pura tenang.
Aku menulis namamu dalam diam, bukan untuk memanggil,
tapi untuk mengenang betapa berharganya seseorang yang pernah singgah begitu dalam.
Dan di antara semua kehilangan,
aku belajar bahwa beberapa orang memang datang bukan untuk tinggal,
melainkan untuk mengajarkan arti mencintai dengan ikhlas.
Semoga kamu di sana benar-benar baik-baik saja,
dalam setiap langkah, setiap doa, setiap hari yang baru.
Semoga Tuhan selalu melindungimu dari segala hal yang menyakitkan.
Dan jika suatu hari, entah kapan, takdir berbaik hati mempertemukan kita lagi,
aku ingin bilang sesuatu padamu…
Aku sudah mencoba, sungguh.
Aku menjaga diriku sebaik mungkin, seperti yang kamu minta.
Aku menahan setiap air mata yang hampir jatuh,
aku belajar berjalan tanpa bayanganmu di sampingku.
Tapi kini, aku lelah.
Aku rindu.
Aku ingin, untuk sekali lagi saja…
kamu yang menjaganya — seperti dulu.
Comments
Post a Comment