Satu Kota Namun Tak Pernah Bertemu
Ada yang aneh tentang kita—
dua hati yang tinggal di kota yang sama,
menghirup udara yang sama,
berjalan di jalan yang sama,
namun tak pernah benar-benar saling menemukan.
Sering kali aku bertanya pada angin,
apakah ia pernah menyentuhmu sebelum sampai padaku?
Atau pada rintik hujan malam,
apakah ia sempat jatuh di pundakmu
sebelum membasahi langkahku?
Karena terasa aneh…
kita sedekat ini,
namun rasanya seperti dua dunia yang berdiri berjauhan.
Di bawah lampu-lampu kota yang meredup,
aku membayangkan
mungkin kita pernah berada di trotoar yang sama,
hanya saja semesta menggeser waktuku
sedetik lebih lambat darimu.
Mungkin kita pernah melewati pintu yang sama,
hanya saja takdir menahan pertemuan itu
agar tidak terjadi.
Namun ada banyak hal yang tak sempat kuberitahu:
bahwa aku merindukan seseorang
yang bahkan tak pernah sempat kunamai.
Bahwa aku menyimpan rasa
untuk seseorang yang hanya kutemui lewat kemungkinan.
Bahwa keberadaanmu seperti senja yang tak pernah muncul—
kutunggu, kutunggu,
tapi langit tak pernah benar-benar berubah warna.
Dan meski kita tinggal di kota yang sama,
kau tetap menjadi jarak
yang tak pernah bisa kutempuh.
Ada tembok yang tak terlihat,
ada waktu yang selalu tak selaras,
ada semesta yang selalu menggeser langkahku
satu detik lebih lambat darimu.
Sampai akhirnya aku sadar,pada sebuah pribahasa ini,
bukan jarak yang membuat kita tidak berjumpa—
tapi benang merah yang dulu menghubungkan kita
telah lama terputus.
Tak lagi menarikku ke arahmu,
tak lagi menahanmu tetap di sisiku.
Kadang aku bertanya,
apakah putusnya itu karena waktu,
atau karena kita memang tidak ditakdirkan
menjadi satu akhir yang sama?
Dan satu hal yang pahit yang harus kuterima:
mau satu kota sekalipun,
kalau masanya sudah habis,
kita tetap tidak akan bertemu.
Sedekat apa pun langkah kaki,
jika takdirnya selesai,
kita tetap berpisah—
bukan karena jauh,
tapi karena sudah bukan waktunya lagi.
Dan malam ini,
aku hanya ingin mengakui sesuatu yang selama ini kusimpan:
aku merindukanmu,
meski kita tidak pernah benar-benar saling memiliki.
Aku menunggu,
meski tak ada yang perlu ditunggu.
Aku berharap,
meski benang merah kita telah putus sejak lama.
Jika suatu hari semesta membiarkan kita bertemu,
aku akan menyapamu dengan tenang,
tanpa berharap apa-apa.
Namun jika tidak,
biarlah cerita ini tetap menjadi luka yang lembut—
tentang dua jiwa
yang hidup di satu kota,
namun takdirnya tidak lagi saling menuju.
Dan mungkin begitulah takdir bekerja:
mendekatkan,
lalu melepaskan,
walau dua hati tetap diam-diam saling menoleh
dari kejauhan yang seolah tidak pernah ada.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment