Takdir yang Membuat Kita Berjarak


Ada perasaan yang tidak pernah selesai diucapkan,
dan ada luka yang tidak pernah selesai ditutup.
Mungkin itu yang tersisa darimu—
bukan wajahmu, bukan suaramu,
tapi ruang kosong yang tidak bisa aku isi lagi
meski sudah berkali-kali kucoba.

Dan aku benci mengakuinya,
tapi jarak ini bukan sekadar jarak.
Ia adalah pengingat bahwa aku kalah…
kalah melawan waktu, kalah melawan keadaan,
kalah melawan takdir
yang entah mengapa selalu memilih
untuk mengambil yang paling aku jaga.

Di malam-malam tertentu,
aku masih merasakan bayanganmu duduk di sampingku,
meski aku tahu itu hanya kenangan
yang menolak mati.
Aku menutup mata,
berharap semesta mengembalikanmu barang sebentar—
tapi yang datang justru rasa sesak
yang memukul dadaku dari dalam.

Kita jauh bukan karena kita ingin,
tapi karena semesta memutuskan
bahwa cinta kita tak layak untuk dilanjutkan.
Seperti lampu yang padam perlahan,
tanpa suara, tanpa peringatan.
Dan aku dibiarkan menatap gelap,
sendirian,
dengan sisa-sisa harapan
yang tidak tahu harus dibuang kemana.

Yang membuatnya lebih menyakitkan adalah ini:
kita tidak pernah benar-benar selesai.
Tidak ada kata “selamat tinggal”,
tidak ada pintu yang ditutup.
Hanya sunyi yang melebar,
hanya hati yang menjauh,
sampai akhirnya kita menjadi dua orang
yang berjalan saling membelakangi
tanpa pernah benar-benar mengerti
kenapa harus begitu.

Jika kamu bertanya apa yang kupelajari dari semua ini,
jawabannya sederhana tapi menghancurkan:
bahwa ada cinta yang hadir untuk menumbuhkanmu,
dan ada cinta yang hadir hanya untuk merobohkanmu,
agar kamu tahu bahwa kamu pernah berdiri terlalu rapuh.

Dan cinta kita…
adalah cinta yang merobohkanku.
Berkali-kali.
Tanpa belas kasihan.

Aku pernah marah pada semesta,
bertanya mengapa aku dipertemukan denganmu
jika akhirnya aku harus kehilanganmu.
Tapi semakin aku mencari jawaban,
semakin aku sadar bahwa
tidak semua kehilangan punya alasan.
Beberapa hanya diciptakan
agar kita belajar menahan pedih
tanpa jatuh berkali-kali.

Dan meski takdir membuat kita berjarak,
kau tetap menetap di sudut terdalam
yang tidak bisa dijangkau siapa pun.
Ironis, bukan?
Kita yang dipisahkan takdir—
tetap dipaksa menyimpan satu sama lain
di tempat yang paling sulit dihapus.

Jika suatu hari kita bertemu lagi,
dengan wajah yang lebih dewasa
dan hati yang lebih lelah,
aku hanya berharap satu hal:
jangan tanyakan mengapa kita berakhir seperti ini.
Karena aku tidak ingin mengulang
segala sakit yang pernah kupeluk
hanya untuk mempertahankanmu.

Dan jika di masa depan kita bertemu lagi,
entah sebagai orang asing
atau sebagai seseorang yang pernah saling menyelamatkan,
aku berharap luka ini sudah sembuh.
Aku berharap hatiku sudah berdamai
dengan kenyataan bahwa kita dipisahkan
bukan karena keinginan,
melainkan karena takdir
yang tidak memberi kita pilihan.

Karena pada akhirnya,
meski pedihnya masih menusuk,
aku belajar menerima satu hal:
kita berjarak bukan karena tidak ditakdirkan bertemu,
melainkan karena kita ditakdirkan
untuk saling melepaskan.

Andai waktu bisa kembali,
aku tetap akan memilih untuk mencintaimu.
Meski aku tahu akhir kita begini:
berjarak, jauh,
dan hanya saling menyapa lewat luka yang sama.

Comments

Popular Posts