Tentang Rindu yang Masih Belajar Ikhlas

 Kadang aku bertanya pada diriku sendiri,

mengapa seseorang yang sudah pergi

masih mampu tinggal begitu lama di dalam dada.

Seakan namamu menjadi lorong sunyi

yang selalu kutemui setiap kali malam datang terlalu pelan.


Aku mencoba merelakanmu,

tapi rindu selalu lebih dulu menemukan caranya untuk kembali.

Ia mengetuk pintu hatiku tanpa permisi,

membawa bayanganmu, suaramu, dan semua yang pernah membuatku utuh.

Dan aku, dengan segala kelemahan yang kumiliki,

hanya bisa duduk diam menunggu rasa itu mereda.


Tidak ada yang benar-benar mengajarkanku tentang kehilangan.

Aku hanya belajar dari setiap hening

yang terasa lebih berat sejak kamu tidak ada.

Belajar dari setiap pagi

yang selalu mengingatkanku bahwa hidup terus berjalan

meski aku masih tersangkut pada cerita yang sudah selesai.


Tapi perlahan aku paham,

bahwa tidak semua yang hilang harus kucari,

dan tidak semua yang pecah harus kurekatkan kembali.

Beberapa luka dibiarkan tetap luka,

agar aku bisa mengerti bahwa aku pernah mencintai sedalam itu.


Dan mungkin…

ikhlas memang tidak datang dalam sekali tarikan napas.

Ia datang perlahan,

seperti langit yang belajar terang setelah hujan.

Seperti hati yang belajar pulang

setelah terlalu lama mengejar sesuatu yang tak mengarah pada rumah.


Jika pada akhirnya aku sembuh,

aku ingin mengenangmu tanpa rasa sesak,

tanpa bertanya “mengapa tidak kita saja?”.

Aku hanya ingin tersenyum kecil—

karena pernah ada seseorang yang membuatku jatuh sedalam itu,

dan aku berhasil bangkit tanpa harus membencinya.


Comments

Popular Posts