Yang Dekat Namun Tak Pernah Menyatu

 Aku banyak mengetahui tentangmu,

tentang nada suaramu saat bahagia,
tentang caramu menutupi lelah dengan senyum kecil,
bahkan tentang mimpi-mimpi yang diam-diam masih kamu kejar.
Dan selalu senang jika kamu berhasil dalam hal apa pun yang kamu raih.
Namun apakah untuk bersama… setidak mungkin itu, ya?
Seolah semesta memperbolehkan aku mengenalmu,
tapi tidak mengizinkan aku untuk memilikimu.

Mungkin memang begitulah takdir bekerja—
mendekatkan dua hati, tapi tidak pernah benar-benar menyatukan.
Ada jarak yang tak bisa kutembus,
ada waktu yang tak pernah memihak,
dan ada rasa yang hanya berani tumbuh dalam diam.

Aku belajar merayakanmu dari jauh,
menyimpan bahagiamu dalam genggaman yang tidak pernah kau lihat.
Aku tetap bangga, tetap mendoakan,
meski namaku tak pernah jadi alasan senyummu.
Kadang aku merasa, mencintai diam-diam seperti ini
adalah cara paling lembut dan paling menyakitkan sekaligus.

Kadang aku bertanya,
jika saling menyukai saja tak cukup,
apa lagi yang sebenarnya dibutuhkan agar dua orang bisa tetap tinggal?
 Namun jawabannya selalu hening,
seakan dunia pun enggan membisikkan apa yang sebenarnya hilang dari kita.

Tapi mungkin…
beberapa perasaan memang ditakdirkan hanya untuk dirasakan,
bukan untuk dimiliki.
Dan aku—
aku sedang belajar merelakan yang tak pernah benar-benar menjadi milikku,
walau seluruh hatiku pernah ingin memilihmu.
Karena mencintai seseorang tanpa pernah memilikinya
adalah bentuk paling sunyi dari ketegaran yang sedang kupelajari.

Comments

Popular Posts