Yang Tersisa di Antara Mimpi dan Melupakan
Dalam perjalanan melupakanmu,
mengapa Tuhan selalu membawamu ke dalam mimpiku?
Setiap kali aku mulai merasa baik-baik saja,
setiap kali aku mulai meyakinkan diri bahwa aku akhirnya bisa berdiri tanpa bayanganmu,
semesta justru menghadirkanmu kembali
di tempat paling rapuh dalam diriku—
dalam tidurku,
di mana aku tak bisa bersembunyi dari rasa yang kusembunyikan.
Aku membencinya,
tapi aku juga diam-diam merindukannya.
Mimpi-mimpi itu begitu kejam:
mereka menghadirkanmu dengan begitu nyata,
dengan suara yang dulu membuatku tenang,
dengan senyum yang dulu menenangkan semua cemas yang tak pernah sempat kuucapkan.
Di sana, dalam mimpi,
kau kembali seperti dulu,
hangat, dekat, dan seolah tak pernah pergi.
Namun, semuanya runtuh saat aku terbangun.
Kepalaku sadar bahwa kau telah lama menjauh,
tapi hatiku selalu membutuhkan waktu lebih lama untuk mengerti.
Rasanya seperti kehilanganmu untuk kedua kalinya,
dan entah kenapa
kehilangan dalam mimpi terasa jauh lebih menyesakkan
daripada perpisahan di dunia nyata.
Mungkin Tuhan sedang mengajariku sesuatu,
bahwa proses melupakan tidak selalu berjalan lurus,
bahwa ada malam-malam ketika yang hilang
akan kembali mengetuk pintu hati,
bukan untuk dimiliki lagi,
tapi untuk memastikan aku benar-benar siap melepaskan.
Dan aku sedang belajar…
Belajar menerima bahwa beberapa nama
tinggal lebih lama dari yang seharusnya.
Belajar memahami bahwa rindu tidak selalu meminta kembali,
kadang ia hanya ingin diakui keberadaannya
sebelum akhirnya perlahan memudar.
Jika suatu hari nanti mimpi itu berhenti datang,
aku tahu itu bukan karena aku tak lagi mengenangmu,
tapi karena hatiku akhirnya menemukan tempat baru untuk beristirahat—
tempat yang tidak lagi dipenuhi bayanganmu,
tempat di mana aku bisa berdamai
dengan semua yang pernah kita tinggalkan.
Dan sampai hari itu tiba,
biarlah aku menghadapi mimpi-mimpi itu dengan tenang:
sebagai tanda bahwa aku pernah mencintaimu sedalam itu,
dan sedang belajar melupakanmu perlahan-lahan,
tanpa perlu menyalahkan takdir,
tanpa perlu membenci semesta,
cukup menerima
bahwa begitulah cara hatiku perlahan sembuh.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment