Aku Masih Menunggumu di Sini


Aku masih menunggumu di sini—
di tempat yang dulu pernah menjadi rumah bagi dua hati
yang kini tinggal satu saja yang tetap bertahan.

Aku menunggumu dengan cara paling sunyi,
membiarkan rindu itu tumbuh tanpa suara,
meski kadang rasanya seperti luka
yang tak pernah benar-benar sembuh.

Terkadang aku membenci perasaan ini—
mengapa ia tetap tinggal begitu lama di hatiku?
Mengapa ia tak pergi ikut bersamamu
saat kamu memilih arah yang tak lagi menuju aku?
Aku membencinya,
karena pada akhirnya aku tetap memilih menunggumu,
meski aku tahu rasanya perih,
meski logika sudah berkali-kali memintaku berhenti.

Aku masih menunggumu di sini,
walau aku tahu dunia sudah membawamu jauh,
walau hatimu mungkin tak lagi mengarah ke tempat yang sama.

Namun entah mengapa, ada hangat yang tetap tinggal—
hangat dari kenangan,
hangat dari nama yang pernah membuat dada luluh,
hangat dari mimpi yang kini hanya tinggal serpihan.

Aku menunggumu bukan karena aku tak bisa pergi,
tapi karena beberapa rasa memang diciptakan
untuk menetap lebih lama dari alasan-alasannya.

Dan jika suatu hari kamu kembali,
meski hanya sebagai angin yang singgah sekejap,
aku akan tetap menyambutmu—
bukan sebagai yang menuntut untuk dipilih,
tapi sebagai seseorang
yang pernah mencintaimu dengan cara paling tulus
yang ia tahu.

Aku masih menunggumu di sini,
dengan hati yang kadang perih,
kadang rapuh,
namun tetap hangat setiap kali mengingatmu.

Comments

Popular Posts