Cinta yang Tak Pernah Kau Lihat

 

Kamu bertanya  pada bulan apakah dirimu terlalu buruk untuk seseorang?
 saat itu aku menjawab pertanyaan itu dengan suara yang kuusahakan tetap tenang,
“kamu tak buruk untuk siapa pun,
hanya saja kamu belum menemukan seseorang itu, Tuan.”

Namun sesungguhnya, kata-kata itu meninggalkan getir di hatiku.
Sebab di balik jawaban yang terdengar bijak,
ada perasaan yang tak mampu kuucapkan.
Aku tersenyum seolah baik-baik saja,
padahal ada sesuatu yang pelan-pelan runtuh di dalam dada.

Malam itu aku pun bertanya pada bintang—
mengapa di kehidupan yang hanya sekali ini,
ia tak pernah menoleh ke arahku?
Mengapa aku yang jatuh cinta sepenuh hati,
sementara dia sama sekali tidak?
Bahkan sekadar melihat ke arahku pun tidak.

Apakah perasaanku terlalu kecil untuk disadari,
atau justru terlalu sunyi hingga tak terdengar?
Aku ada di hadapannya, mendengar ceritanya,
menguatkannya, mengaguminya dalam diam,
namun tetap saja aku bukan tujuan,
hanya persinggahan yang tak pernah benar-benar dituju.

Aku mencintai tanpa diminta,
menunggu tanpa janji,
dan berharap tanpa kepastian.
Barangkali inilah bentuk cinta paling sepi—
mencintai seseorang yang tak pernah tahu
bahwa dirinya adalah doa paling sering
yang kusebutkan pada langit setiap malam.

Dan jika memang takdirku hanya sampai di sini,
biarlah perasaan ini tetap hidup dengan caranya sendiri.
Tak harus dimiliki,
tak harus dibalas.
Cukup aku saja yang tahu,
bahwa pernah ada aku
yang mencintaimu sedalam ini,
meski kau tak pernah menoleh sedikit pun ke arahku.

Comments

Popular Posts