Edelweis di Antara Senja

Dan di antara jutaan manusia yang kutemui,
jatuh cinta padamu adalah peristiwa paling indah yang pernah kuterima.
Mungkin kamu diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum—
karena di mataku, kamu seindah itu, tanpa perlu alasan apa pun.

Aku selalu bertanya pada senja,
apakah di kesempatan lain cintaku akan menemukan jalannya pulang?
Apakah suatu hari nanti, kamu akan menoleh ke arahku,
lalu kembali menyapaku seperti dulu—
seolah dunia berhenti sejenak hanya untuk memberi ruang pada rindu ini.
Menantimu melakukan itu adalah harap yang selalu kusimpan dengan sabar.

Kamu tahu, kamu seperti bunga edelweis.
Tumbuh di tempat tinggi, jauh, dan sulit digapai,
namun keindahannya tak pernah pudar oleh waktu.
Tak semua orang bisa memilikinya,
tapi siapa pun yang pernah melihatnya,
akan mengingatnya seumur hidup.
Begitu juga kamu—
hadirmu sederhana, tapi menetap lama di hatiku.

Aku mencintaimu tanpa suara,
tanpa tuntutan untuk dimiliki,
hanya dengan doa-doa kecil yang kupanjatkan diam-diam.
Jika suatu hari takdir mempertemukan kita kembali,
aku ingin kau tahu:
perasaanku masih sama—
utuh, hangat, dan setia—
seperti edelweis yang tetap mekar,
meski musim berganti berkali-kali.

Dan bila pun semesta memilih jalan yang berbeda,
aku akan tetap bersyukur pernah jatuh cinta padamu.
Karena mencintaimu,
adalah salah satu cara paling menyenangkan
untuk belajar tentang sabar, harap,
dan keindahan yang tak harus dimiliki.

Comments

Popular Posts