Langit Kelabu di Penghujung Tahun.

Langit sore itu berwarna abu,
ia tak memancarkan matahari terbenam—
justru terlihat kelabu, tak seperti yang selalu kulihat.
Aku menatapnya lama, memandang ke sekeliling,
mendengarkan deburan ombak yang bersenandung pelan,
seolah laut sedang bercerita tentang hal-hal yang tak pernah selesai.

Di antara hembusan angin dan aroma asin yang menempel di udara,
aku menemukan diriku sendiri—
utuh, meski membawa rindu yang tak lagi ingin kupeluk terlalu erat.
Ada bahagia kecil yang tumbuh diam-diam,
bahagia karena pernah merasakan,
karena pernah mencintai dengan sepenuh hati,
meski akhirnya aku harus belajar melepaskan.

Aku tersenyum pada langit yang muram,
sebab aku tahu, tak semua keindahan harus bercahaya terang.
Ada indah yang hadir dalam keikhlasan,
dalam perasaan yang perlahan kuikhlaskan pergi,
tanpa dendam, tanpa penyesalan.

Jika sore ini langit  kelabu, biarlah.
Aku tetap bersyukur pernah melihat langit yang biru bersamamu,
pernah tertawa di waktu yang singkat namun berarti.
Kini, aku memilih berjalan pulang dengan hati yang lebih tenang,
membiarkan rindu menjadi doa,
dan kenangan menjadi rumah yang tak lagi menyakitkan.

Di bawah langit abu ini,
aku belajar bahwa cinta tak selalu tentang memiliki,
kadang ia hanya singgah—
mengajarkan bahagia,
lalu pergi,
meninggalkan aku yang lebih kuat,
dan hati yang akhirnya bisa tersenyum dengan ikhlas.

Comments

Popular Posts