Merayakanmu dari Jauh

 

Bahkan setelah sekian lama kita tak lagi bertemu,
perasaanku nyatanya masih tetap sama—
diam, tetapi tidak pernah benar-benar padam.

Aku masih menunggu kabarmu dari orang lain.
Entah dari cerita singkat yang lewat,
atau sepenggal kabar yang tak sengaja terdengar.
Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja.
Meski bukan darimu langsung,
setidaknya aku tahu sedikit tentang dunia yang sekarang kamu jalani—
bahwa kamu masih tersenyum,
masih berjuang,
masih berjalan menuju hidup yang kamu impikan.

Dan saat aku mendengar bahwa kamu telah sampai pada mimpimu,
ada sesuatu di dalam dadaku yang terasa hangat dan perih bersamaan.
Hangat karena aku bangga,
perih karena aku tidak lagi menjadi bagian dari perjalananmu.

Tapi sungguh,
melihatmu berhasil,
melihat kamu akhirnya memegang apa yang dulu sering kamu ceritakan,
itu membuatku ikut merasa lega.
Seolah semesta mengizinkan aku untuk melihatmu bahagia,
meski hanya dari jauh—
meski aku bukan alasanmu.

Dan mungkin, begitulah caraku mencintaimu kini—
bukan dengan menggenggam,
tapi dengan merelakan tempat yang dulu penuh oleh namamu
menjadi ruang sunyi yang perlahan kutata ulang..

Kadang aku masih bertanya pada diri sendiri,
apakah rindu yang diam ini akan menemukan rumahnya,
atau ia hanya akan terus melayang di udara,
menyapa setiap ingatan tentangmu yang tak pernah benar-benar hilang.

Dan ada kalanya ketika malam aku bertanya pada Tuhan,
mengapa rindu ini tidak ikut pergi bersamamu?
Mengapa ia justru tinggal bersamaku,
menyusup di sela-sela napas
dan mengingatkanku bahwa yang hilang
bukan hanya seseorang,
melainkan juga versi diriku
yang dulu kamu kenal.

Dan yang paling perih adalah ,
sekuat apa pun aku merelakan,
ada bagian dalam diriku
yang masih berharap kamu menoleh sekali saja,
hanya untuk membuktikan bahwa aku tidak selamanya mudah untuk melupakanmu.

Dearr...

Congratulation on achieving your dream, dear…
Selamat untukmu.
Aku bahagia untukmu,
bahkan jika satu-satunya tempatku sekarang
hanyalah menjadi seseorang yang diam-diam merayakanmu
dalam hati yang perlahan belajar merelakan.


Comments

Popular Posts