Pergimu Sudah Lama, Namun Hatiku Masih Mencintaimu

Pergimu sudah lama,
sejauh jarak yang tak lagi bisa kusebut dengan hitungan waktu.
Hari-hari telah berganti, musim pun silih datang dan pergi,
namun anehnya, hatiku masih menetap di tempat yang sama—
tempat di mana namamu pernah tumbuh dengan begitu tenang.

Aku sudah belajar tersenyum tanpa kehadiranmu,
menjalani pagi tanpa kabar darimu,
dan menutup malam tanpa suaramu.
Tapi ada rindu yang tak pernah benar-benar pergi,
ia hanya diam, menunggu saat hatiku lengah,
lalu kembali menyapa dengan cara paling pelan,
namun cukup untuk membuat dadaku terasa sesak.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri,
sampai kapan perasaan ini akan tinggal?
Sebab meski aku tahu kamu telah melangkah jauh,
hatiku masih setia mencintaimu—
bukan untuk memintamu kembali,
melainkan sebagai bentuk kejujuran pada rasa
yang tak pernah sempat pamit.

Aku tak lagi berharap banyak,
hanya ingin kamu baik-baik saja di hidupmu sekarang.
Jika pun cintaku tak lagi punya tempat di sisimu,
biarlah ia tetap hidup di sini,
sebagai kenangan hangat
tentang seseorang yang pernah kucintai
dengan sepenuh hati, tanpa syarat, tanpa jeda.

Dan bila suatu hari namamu kembali singgah di benakku,
aku ingin menyapanya tanpa gemetar,
tanpa perih yang berlebihan.
Bukan karena aku lupa,
melainkan karena aku telah belajar menerima
bahwa tidak semua yang kita cintai
ditakdirkan untuk tinggal selamanya.

Aku akan menyimpanmu dengan cara yang paling lembut,
tidak lagi sebagai luka yang kupeluk diam-diam,
melainkan sebagai bagian dari perjalanan
yang pernah mengajarkanku arti mencintai tanpa memiliki.
Kau adalah bab yang selesai,
namun maknanya tetap tinggal—
menjadi alasan mengapa hatiku kini lebih kuat,
lebih sabar, dan lebih jujur pada dirinya sendiri.

Dan jika suatu saat semesta mempertemukan kita kembali,
aku berharap kita bisa saling menatap tanpa penyesalan.
Aku akan tersenyum, mengucap syukur dalam hati,
karena pernah mencintaimu sepenuh itu,
meski akhirnya harus merelakanmu sepenuhnya.
Sebab cinta, pada akhirnya,
bukan tentang siapa yang bertahan,
melainkan tentang siapa yang mampu melepaskan
dengan penuh keikhlasan dan doa yang tetap hangat.

Comments

Popular Posts