Setelah sekian lamanya aku tidak melihatmu, kali ini seolah semesta sedang berbaik hati padaku.,Aku melihatmu lagi—setelah begitu lama mataku kehilangan wajah yang pernah begitu akrab,Dan waktu yang begitu lama menciptakan jarak yang tak bisa kutembus.
Kamu tampak baik-baik saja, ada lega yang pelan muncul di dadaku.
Aku senang melihatnya.
Meski hanya aku yang memandangi dari jauh, setidaknya rinduku akhirnya menemukan tempatnya untuk pulang.
Anehnya, kehadiranmu yang singkat itu cukup membuat seluruh hening di dalam diriku bergerak.
Aku tidak memerlukan sapa, tidak menuntut kau menoleh;
cukup dengan tahu bahwa kamu masih di dunia yang sama,
cukup dengan tahu bahwa hidup terus mempertemukan kita—sekilas, sesunyi itu—aku sudah merasa diberi hadiah.
Rasanya seperti menghirup udara yang berbeda, yang pernah hilang lama.
Ada hangat yang menyusup perlahan, bukan hangat yang memaksa,
melainkan hangat yang membuatku sadar bahwa aku pernah, dan mungkin masih, menyimpan sesuatu tentangmu.
Mungkin pertemuan kecil ini bukan apa-apa bagimu.
Tapi bagiku, ini adalah bukti bahwa rindu tidak selalu harus disampaikan—
kadang, ia hanya perlu diizinkan untuk diam,
dan tetap bahagia hanya karena bisa melihatmu baik-baik saja.
Entah kamu melihatku atau tidak,
rasanya aku masih belum mampu menatap sepasang mata yang selalu kurindukan itu.
Bukan karena aku takut,
tapi karena aku tahu betapa rapuhnya diriku ketika berhadapan dengan cahaya yang pernah membuatku jatuh.
Aku memilih menunduk, bukan karena ingin menjauh,
melainkan karena bahagia kecil ini terasa cukup—
bahagia hanya dengan keberadaanmu, tanpa harus saling sapa.
Mungkin suatu hari nanti aku bisa kembali menatapmu tanpa ada getar yang menyiksa dadaku.
Tapi hari ini, biarlah aku mencintaimu dalam diam yang lembut—
diam yang tidak meminta apa-apa,
diam yang merelakan,
diam yang tetap hangat hanya karena kamu pernah menjadi tempat pulang paling sunyi yang aku kenal.
Comments
Post a Comment