Semesta yang Berbisik Namamu

Ada hal-hal dalam hidup yang tidak pernah benar-benar hilang,
meski waktu dan jarak berusaha menghapusnya.
Salah satunya adalah kamu—nama yang selalu kembali,
bahkan ketika aku berusaha melupakan.

Rindu ini tumbuh begitu pelan,
seperti embun yang merayap di ujung pagi;
tak terlihat, tapi ada.
Dan aku selalu sadar kehadirannya
setiap kali bayanganmu tiba-tiba datang tanpa permisi.
Kadang aku merasa egois,
karena di hati kecilku aku masih ingin kamu tinggal,
meski aku tahu dunia tak selalu memihak dua orang
yang saling menyimpan rasa tapi tak saling menggenggam.

Tapi begitulah aku—
mencintaimu dengan cara yang tak pernah bisa kulawan.
Cinta yang membuatku bangga menuliskannya,
membiarkan mereka yang membaca tahu
betapa dalamnya seseorang bisa mencintai,
bahkan ketika cinta itu tak lagi punya tempat pulang.

Kamu tau, aku menyukai langit
karena ia selalu mengingatkanku padamu:
luas, tenang, tapi menyimpan banyak hal
yang tak pernah benar-benar bisa kutebak.
Aku menyukai senja
karena warnanya menyerupai caramu membuatku jatuh pelan-pelan;
hangat, tapi menyimpan perih yang tak bisa kusembuhkan cepat-cepat.

 Aku menyukai laut membuatku belajar
bahwa rindu bisa seribut ombak namun tetap tak terdengar,
dan gunung mengajariku
bahwa mencintai seseorang kadang berarti bertahan
meski tidak pernah disapa kembali.
Sementara bintang dan bulan…
mereka hanya pengingat kecil
bahwa ada seseorang yang selalu kupikirkan,
bahkan ketika dunia sedang gelap sekalipun.

Dan di antara semua itu—
langit, senja, laut, gunung, bintang, bulan—
namamulah yang paling sering kusebut dalam diam.
Nama yang orang lain pun tahu,
karena terlalu sering kusembunyikan
di balik cerita-ceritaku,
di balik kata-kata yang sengaja kubuat indah
agar kamu tetap terasa dekat.

Meski akhirnya..
aku hanyalah seseorang yang tidak berhenti berharap,
tidak berhenti merindu,
meski aku tahu hati ini mungkin hanya tempat singgah
bagi rasa yang sejak dulu tak pernah sepenuhnya kau tinggalkan
dan tak pernah sepenuhnya kau pilih.

Namun meski begitu,
ada kehangatan yang anehnya masih kutemukan
setiap kali mengingatmu.
Entah bagaimana,
kamu selalu berhasil menjadi rumah
dalam cerita-cerita yang kutulis—
meski dalam kenyataannya
aku hanya tamu di pintu hatimu.

Dan jika mencintaimu harus terasa sedikit menyakitkan,
biarlah.
Selama namamu masih bisa membuatku tersenyum
di antara semua sesak yang kubawa,
aku akan tetap menyimpanmu
di tempat paling lembut dalam hatiku.



Comments

Popular Posts