Teruntuk Satu Nama Yang S'lalu Berada Dalam Doaku.

Teruntuk satu nama yang hingga kini masih kutitipkan dalam setiap doa,
nama yang kusebut pelan, dengan hati yang kupeluk agar tetap tenang.
Meski waktu memisahkan langkah kita,
dan jarak mengajarkan arti kehilangan,
namamu tetap menemukan jalannya sendiri untuk tinggal—
di antara rindu, harap, dan keyakinan yang belum sepenuhnya padam.

Aku tahu, kita pernah berhenti di satu titik yang sama,
lelah dengan keadaan,
bingung oleh waktu,
dan belum cukup dewasa untuk saling menggenggam tanpa saling melukai.
Namun percaya atau tidak,
aku tak pernah berhenti berharap—
bukan untuk mengulang masa lalu,
melainkan untuk bertemu kembali dengan versi terbaik dari diri kita masing-masing.

Dalam doaku,
aku selalu menyelipkan satu harapan kecil:
semoga hidup membentukmu menjadi pribadi yang lebih kuat,
lebih tenang,
dan lebih bahagia.
Dan semoga aku pun demikian—
menjadi seseorang yang telah selesai dengan luka,
yang lebih mengerti arti sabar,
dan mampu mencintai dengan cara yang lebih dewasa.

Aku percaya,
jika memang kita ditakdirkan bersama,
waktu tak akan salah jalan.
Ia hanya sedang mendewasakan kita,
memisahkan untuk sementara,
agar kelak ketika dipertemukan kembali,
kita tak lagi saling menyakiti,
melainkan saling menguatkan.

Jika suatu hari semesta memberi kita kesempatan lain,
aku berharap kita bertemu bukan sebagai dua orang yang penuh ragu,
melainkan sebagai dua hati yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Aku ingin bertemu kamu yang lebih yakin,
dan aku ingin hadir sebagai aku yang lebih siap.
Bersama, bukan karena butuh,
tetapi karena sama-sama memilih.

Dan bila hari itu belum tiba,
aku akan tetap mendoakanmu dengan cara yang paling lembut.
Tanpa menuntut,
tanpa memaksa.
Sebab mencintaimu, bagiku,
tak selalu tentang hari ini—
melainkan tentang keyakinan bahwa
di kesempatan lain,
di waktu yang lebih tepat,
aku dan kamu
mungkin akan kembali saling menemukan.

Dariku,Untukmu.

Comments

Popular Posts