Aku Adalah Daratan Tempatmu Kembali
Hari ini aku menatap lautan lepas yang tak berujung.
Aku berdiri di tepian pantai, memijakkan kaki pada hamparan daratan yang luas yang tak kalah luasnya dengan samudra di hadapanku. Saat itu aku tersadar, sejauh apa pun lautan membawamu pergi, aku akan selalu menjadi daratan yang menunggumu pulang. Tempat di mana kakimu bisa beristirahat, tempat di mana lelahmu boleh dititipkan, tanpa syarat dan tanpa tuntutan.
Dan sampai hari ini, masih kamu orangnya.
Belum tergantikan, dan entah kapan akan tergeser. Kamu tetap nama yang sama dalam doa-doaku, tetap wajah yang muncul di sela-sela senja, tetap rasa yang tak pernah benar-benar pergi meski waktu terus melangkah.
Jika suatu hari nanti kamu bertanya,
“Mengapa kamu tak sepenuhnya mengikhlaskanku?”
Maka jawabanku sederhana: aku telah ikhlas pada semua yang terjadi di antara kita. Ikhlas pada pertemuan, pada kebersamaan, juga pada perpisahan yang tak pernah benar-benar siap kuterima. Namun ikhlas bukan berarti melupakan. Ikhlas bukan berarti cintaku lenyap begitu saja, seolah tak pernah tumbuh dan hidup di dadaku.
Dan jika kamu kembali bertanya,
“Apakah kamu akan jatuh cinta lagi?”
Maka jawabanku jujur: iya, aku akan jatuh cinta lagi—entah kapan. Tapi bukan hari ini, bukan juga esok. Untuk saat ini, biarkan aku merawat cintaku dengan tenang. Biarkan aku menyimpannya tanpa terburu-buru, membiarkannya pulih, tumbuh dewasa, dan belajar menerima waktu apa adanya.
Biarkan semuanya berjalan sebagaimana semestinya,
tanpa paksaan, tanpa kepura-puraan.
Namun diam-diam, ada doa yang selalu kusematkan:
semoga ketika aku jatuh cinta kembali,
jatuh cinta itu tetap menuju arahmu.
Kepada kamu—yang pernah menjadi rumah,
dan hingga kini masih menjadi alasan mengapa aku percaya
bahwa cinta tak selalu harus memiliki
untuk tetap bisa bertahan.
Tolong ingat aku meski itu di bagian kecil ingatanmu. Dan jangan jatuh cinta pada siapapun dulu tunggu aku yah.
Comments
Post a Comment