Buku Ingatan

 Selepas kamu pergi ,ternyata semuanya tak ada yang berubah ,aku masi dengan kesibukanku menjalani semuanya dengan tenang.Meski sempat kebingungan tapi aku terus mencoba berjalan bersama waktu,membiarkanmu tetap tumbuh dalam doaku.

Meski ingatanku tentangmu telah berhenti mengejar masa depan, buku ingatan itu tetap ada. Ia tak pernah pergi. Ia tinggal di sudut yang sunyi, dan sesekali aku membukanya kembali, membaca ulang halaman demi halaman yang pernah kita tulis tanpa janji.

Di sana, namamu masih sama. Tak pudar, tak berubah. Hanya aku yang kini membacanya dengan dada lebih sesak, dengan senyum yang tak lagi utuh. Ada bagian-bagian yang tak sanggup kulewati tanpa berhenti sejenak, sebab di tiap kalimatnya ada aku yang dulu—yang terlalu berharap, yang terlalu percaya.

Aku belajar berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua yang tinggal harus kembali. Ada yang cukup dikenang, ada yang cukup disimpan. Dan kamu… mungkin adalah bagian yang harus kuterima sebagai cerita, bukan lagi tujuan.

Aku tidak lagi memanggilmu dalam rindu yang gaduh. Aku hanya menyebut namamu pelan, dalam hati, seperti seseorang yang pernah singgah dan meninggalkan luka yang rapi—tak berdarah, tapi perihnya bertahan lama.

Comments

Popular Posts