Cinta yang Pernah Megah, Lalu Ikhlas
Pada akhirnya, cinta yang ku megahkan ini berakhir dengan cinta yang ku ikhlaskan.
Kamu hadir di kala semua terasa semu dan kosong, bak pahlawan yang datang tanpa aba-aba. Sejak saat itu, hidupku berubah menjadi lebih berwarna. Sepi yang dulu menyesakkan perlahan menjelma menjadi riang tawamu, celotehanmu yang memenuhi isi kepalaku, dan kenangan yang hingga kini sulit untuk ku lupa.
Setiap hari kamu hadir membawa canda dan tawa. Kau berbicara tentang apa pun yang sedang kau pikirkan, menceritakan kejadian yang kau alami, lalu membaginya bersamaku. Begitupun aku, yang dengan senang hati mendengarkan, lalu tak lupa ikut bercerita padamu. Saat itu dunia seolah hanya seluas percakapan kita, dan aku merasa cukup berada di sana.
Lucu ya, ternyata sehangat itu kita dulu, sebelum akhirnya seasing sekarang.
Tak apa. Mungkin waktu yang kita miliki memang telah habis. Meski meninggalkan sesak di dada, setidaknya aku pernah sebahagia itu. Meski kini sepi kembali menjelma, ingatan tentangmu masih selalu mampu mengusir sunyi itu—walau terkadang menyakitkan untuk dikenang, karena rindu memang tak bisa diajak berdiskusi.
Kini aku belajar menerima, bahwa tidak semua yang datang ditakdirkan untuk tinggal. Ada yang hanya singgah, mengajarkan rasa, lalu pergi tanpa janji untuk kembali. Dan kamu, adalah singgah yang paling lama tinggal di hatiku. Aku sering bertanya pada diriku sendiri, di bagian mana semua ini mulai berubah. Di kata yang tak lagi dibalas secepat dulu, atau di sapaan yang perlahan kehilangan hangatnya. Namun tak ada jawaban yang benar-benar ku temukan, selain kenyataan bahwa kita tak lagi berjalan di arah yang sama.
Malam-malam kini terasa lebih panjang. Aku kerap terbangun dengan namamu di ujung doa, menyebutnya pelan, lalu menahannya agar tak jatuh menjadi air mata. Aku rindu, tapi aku tahu rindu ini tak pernah benar-benar kau minta untuk ku bawa. Aku merindukan hal-hal kecil tentangmu—cara ceritamu selalu melebar, tawamu yang muncul tanpa aba-aba, dan kebiasaanmu membagi hari yang mungkin biasa saja, tapi terasa istimewa karena kau membaginya denganku.
Semua itu kini hidup sebagai ingatan, bukan lagi kenyataan.
Dan di titik ini, aku memilih ikhlas. Bukan karena tak sakit, melainkan karena bertahan pun tak lagi memiliki tempat. Aku mengikhlaskanmu bukan karena cintaku habis, tetapi karena cintaku terlalu penuh untuk dipaksakan tinggal.
Jika suatu hari kamu mengingatku, semoga yang terlintas bukan tentang luka, melainkan tentang seseorang yang pernah mencintaimu dengan sederhana dan sepenuh hati. Seseorang yang pernah menjadikanmu rumah, meski akhirnya harus belajar pulang sendirian.
Pada akhirnya, aku akan baik-baik saja. Dengan sepi yang kembali menjadi teman, dengan rindu yang ku simpan diam-diam, dan dengan kenangan tentangmu yang akan selalu ku jaga—bukan untuk menghidupkan luka, melainkan sebagai bukti bahwa aku pernah mencintai, dan pernah bahagia, meski hanya sementara.
Comments
Post a Comment