Jtuh Cinta Tanpa Gaduh

Tentang pemilik mata yang selalu teduh, tutur katanya yang lembut dan senyum manisnya kerap membuatku takjub. Takjub karena semesta tampak begitu teliti saat menciptakan dirinya—seindah itu, setenang itu, seolah ia adalah jeda yang sengaja dihadirkan untuk menenangkan dunia.

Ada rasa senang yang tumbuh diam-diam, hangat dan sederhana. Perasaan yang membuat dadaku ringan, langkahku melambat, dan pikiranku dipenuhi hal-hal kecil tentang dirinya tanpa pernah terasa melelahkan.

Mungkin beginilah rasanya jatuh cinta: tenang tanpa gaduh, tak perlu banyak kata, namun diam-diam menetap lama di hati.

Selama iniii

Aku tak pernah berharap lebih, hanya ingin membiarkan perasaan ini tumbuh dengan caranya sendiri. Menyukainya dari kejauhan terasa cukup—seperti memandang senja tanpa perlu menyentuh warnanya. Ada bahagia kecil setiap kali namanya singgah di kepala, ada doa sederhana yang diam-diam kuselipkan agar semesta selalu ramah padanya.

Jika suatu hari rasa ini harus belajar mereda, aku harap ia pergi dengan lembut. Menyisakan kenangan yang hangat, bukan luka. Sebab pernah mengenalnya, meski tanpa janji dan tanpa akhir yang pasti, sudah lebih dari cukup untuk membuatku percaya: jatuh cinta yang paling indah memang yang datang tanpa gaduh.

Comments

Popular Posts