Masih kamu
Bahkan setelah lama tak bertemu pun, nyatanya masih tetap kamu—
tetap kamu tokoh utamanya.
Di antara jarak yang menua dan waktu yang terus berjalan tanpa pamit,
namamu masih menjadi halaman pertama yang selalu kubuka diam-diam.
Aku belajar hidup dengan segala yang tak lagi sama,
namun hatiku rupanya tak pernah benar-benar pindah rumah.
Ia masih tinggal pada kenangan tentangmu,
pada tawa yang dulu singgah sebentar lalu pergi,
pada suara yang kini hanya bisa kupanggil lewat ingatan.
Ada rindu yang tak menuntut temu,
hanya ingin dikenang dengan baik.
Ada cinta yang tak meminta kembali,
cukup dibiarkan hangat, meski perlahan menjadi doa.
Aku tak lagi berharap kamu pulang,
aku hanya berharap semesta selalu menjagamu.
Jika suatu hari namaku kembali terlintas di benakmu,
ingatlah aku sebagai seseorang yang pernah mencintaimu
tanpa banyak syarat, tanpa banyak suara.
Seseorang yang memilih diam agar perasaannya tetap utuh,
dan memilih ikhlas agar cintanya tetap indah.
Sebab sejauh apa pun waktu membawa kita menjauh,
di satu sudut hatiku yang paling sunyi,
kamu akan selalu tinggal—
sebagai cerita yang tak selesai,
namun tak pernah ingin kuhapus.
Comments
Post a Comment