Menyebut Namamu Dalam Doa, Bukan Harap
Teruntuk tuan yang pernah menetap dengan caranya sendiri,
aku menitipkan rasa yang kini telah kupeluk dengan ikhlas.
Bukan lagi rindu yang memohon,
melainkan kenangan yang kuterima
sebagai bagian dari perjalanan hatiku.
Jika dulu namamu sering kusebut dalam harap,
kini kusebut dalam doa.
Aku belajar bahwa mencintai
tak selalu berarti memiliki,
dan melepaskan pun bisa menjadi bentuk kasih
yang paling jujur.
Kutitipkan perasaan ini pada sandyakala,
pada senja yang tak pernah memaksa malam untuk bertahan.
Ia pergi dengan tenang,
meninggalkan hangat yang cukup
untuk dikenang, bukan disesali.
Dalam asmaraloka,
aku memilih berdamai dengan apa yang pernah ada.
Tak ada lagi tuntutan,
tak ada penyesalan.
Hanya syukur karena pernah merasakan
jatuh cinta dengan sepenuh hati.
Jika kelak kita kembali bertemu
sebagai dua jiwa yang telah sampai pada takdirnya masing-masing,
aku berharap kita bisa saling tersenyum
tanpa luka, tanpa beban.
Sebab perasaan yang kutitipkan dulu
kini telah kupulangkan dengan utuh—
menjadi ikhlas,
menjadi tenang,
dan menjadi bahagiaku sendiri.
Comments
Post a Comment