Rindu Yang Tak Bernama
Ada rindu yang tak berani kusebut,
ia berdiam di sela napas,
datang tanpa alamat,
pergi tanpa pamit.
Ia bukan luka,
namun sering terasa perih.
Bukan pula cinta yang utuh,
hanya bayangannya yang tertinggal sunyi.
Dalam diam, aku menyebutmu sebagai smṛti—
kenangan yang enggan pudar,
melekat di ruang batin
tempat waktu kehilangan kuasa.
Rindu ini tak bernama,
namun ia hidup.
Mengalir pelan seperti ananda yang tertunda,
kebahagiaan yang tak sempat sampai
namun cukup hangat untuk dikenang.
Aku belajar merelakannya
sebagai bagian dari dharma perjalanan rasa,
bahwa tak semua yang datang
harus tinggal selamanya.
Jika kelak semesta mengizinkan,
biarlah rindu ini kembali menjadi doa—
hening, ikhlas,
dan akhirnya menemukan śānti,
damai,
meski tanpamu di sisiku.
Comments
Post a Comment