Sebuah Awal Tanpa Nama
Kali ini aku membuka file lamaku—file yang berisi tulisanku sendiri. Acak, tak teratur, dan terasa berantakan. Tapi mungkin begitulah aku dulu: seseorang yang berusaha mencari hal baru setelah sebuah perpisahan. Perpisahan yang bahkan tak pernah benar-benar berbentuk perpisahan, karena sejak awal pun tak pernah ada yang dimulai.
Aku membaca setiap kalimat yang pernah kutulis. Aneh rasanya, tapi aku tahu itu jujur. Perasaannya masih sangat terasa—saat pertama kali aku menuliskannya. Sedih, kesal, marah, rindu. Semuanya bercampur aduk, tak bisa diartikan dengan satu kata pun.
Aku menyusuri setiap kalimat, setiap paragraf, hingga akhirnya aku menemukan bagian di mana aku menulis tentang pertama kali aku bertemu denganmu. Konyol. Aneh. Dan entah kenapa, aku juga malu. Masa iya aku ceritakan di sini? Tapi sepertinya mereka juga perlu tahu bagaimana caranya aku bertemu seseorang seindah kamu.
Saat itu tepat pukul 21.00 malam. Aku hendak pulang dari sebuah swalayan. Awalnya semuanya baik-baik saja, sampai akhirnya motor yang kukendarai tiba-tiba oleng. Ketika kulihat, ban belakangnya pecah—atau setidaknya bocor parah. Alhasil, aku dan seorang temanku harus mendorong motor itu sambil mencari bengkel yang masih buka.
Tak ada yang menolong kami. Padahal, beberapa orang lalu lalang di hadapan kami, seolah tak melihat apa-apa.
Temanku berjalan lebih dulu mencari bengkel, sementara aku tertinggal mendorong motorku. Saat itulah aku mendengar suara motor berhenti tepat di belakangku. Tak lama kemudian, seseorang bersuara—lembut, pelan, tapi tegas.
“Orang Cianggur, ya?”
(nama tempat samaran)
Aku sempat bingung, tapi dengan cepat aku mengangguk dan mengiyakan. Ia lalu bertanya lagi, “Kenapa?”
“Ban motorku bocor,” jawabku singkat.
“Sebentar, aku carikan bengkel yang masih buka. Tunggu di sini.”
Aku hanya mengangguk kecil.
Tak lama kemudian ia kembali. Bengkelnya sudah tutup, katanya, tapi ia tetap menawarkan bantuan. Ia menyuruhku membawa motornya, sementara ia yang membawa motorku. Aku tentu saja merasa lebih ringan—aku hanya perlu mengendarai motornya, sementara ia harus mendorong motorku sambil berjalan kaki.
Mungkin jaraknya hampir dua kilometer dari tempat kami berhenti pertama kali.
Ia menyuruhku berjalan lebih dulu dan mencari bengkel di sepanjang jalan, sambil memberiku arahan. Sayangnya, aku tak menemukan bengkel yang masih buka. Aku pun memutuskan kembali kepadanya.
Saat itu ia sudah berada di sebuah persimpangan, menungguku. Ketika aku menghampirinya, ia berkata bahwa ada bengkel yang masih buka di seberang jalan, tak jauh dari tempat ia berdiri. Akhirnya, kami sampai di tujuan yang kami cari.
Aku melihat wajahnya penuh keringat. Napasnya berat, jelas ia kelelahan. Aku berniat memberinya minum, tapi belum sempat kuutarakan, ia sudah lebih dulu berpamitan untuk pulang.
Dan begitulah—kami berpisah saat itu.
Aku mengucapkan terima kasih.
Ia pamit, lalu pergi.
Ya, begitulah kira-kira pertemuan yang sedikit memalukan itu.
Tapi juga… konyol, dan entah kenapa, tak pernah benar-benar ingin kulupakan.
Hingga akhirnya aku tersadar saat membacanya kembali. Tanpa sadar, aku tersenyum—malu, tapi juga aneh. Perasaan itu muncul begitu saja, seperti sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Ada hangat kecil yang menyelinap, bercampur dengan rasa kikuk karena ternyata aku pernah menulis sedetail itu, sejjujur itu.
Aku sempat menghela napas, lalu menutup file itu sebentar. Seolah memberi jeda pada diriku sendiri. Tapi sebelum benar-benar menutupnya, aku tersenyum lagi—lebih pelan kali ini.
Eits… tapi ini baru awalnya saja.
Masih ada cerita setelahnya.
Masih ada bagian-bagian lain yang belum sempat kuceritakan, tentang hari-hari yang berjalan setelah pertemuan itu, tentang bagaimana sebuah kejadian sederhana bisa menetap lama di ingatan seseorang. Tentang bagaimana seseorang yang datang tanpa rencana, perlahan menjadi bagian dari cerita yang tak pernah benar-benar selesai.
Dan di titik itu, aku akhirnya mengerti satu hal:
beberapa pertemuan memang tidak diciptakan untuk dimiliki,
melainkan untuk diingat—
sebagai awal dari kisah yang diam-diam terus hidup,
meski tak pernah benar-benar diberi nama.
Comments
Post a Comment