Tentang kita yang Tak sampai.


Meski pada akhirnya kita tak bersama, setidaknya pernah ada kita—meski hanya abu.

Setidaknya aku pernah jatuh cinta pada manusia seindah kamu.

Dan meski kita tak bersama, aku pernah merasa dicintai,

sekalipun mungkin itu hanya sebuah ilusi yang kupeluk terlalu erat.


Aku tak menyesali perasaan yang pernah tumbuh.

Sebab mencintaimu adalah salah satu hal paling jujur yang pernah kulakukan.

Ada bahagia kecil saat namamu kusebut dalam doa,

ada senyum sederhana yang muncul hanya karena mengingat caramu hadir.

Kamu pernah menjadi rumah, meski aku hanya singgah sebentar.


Aku bahagia pernah mengenalmu,

pernah berbagi tawa, harap, dan cerita yang kini tinggal kenangan.

Ada senang yang tak bisa kupungkiri,

bahwa hatiku pernah dipenuhi cahaya karena kehadiranmu.

Meski kini cahaya itu meredup,

hangatnya masih tertinggal, pelan namun nyata.


Dan jika akhirnya kita harus berjalan ke arah yang berbeda,

biarlah kenangan tentangmu tetap hidup dengan cara yang paling baik.

Tak lagi ingin memiliki, hanya ingin mengenang.

Tak lagi berharap bersama, hanya mendoakan bahagia.


Karena cinta tak selalu tentang berakhir bersama,

kadang ia hanya singgah untuk mengajarkan rasa,

tentang ikhlas, tentang kehilangan,

dan tentang bagaimana hati bisa begitu dalam mencinta,

meski akhirnya harus belajar melepaskan dengan senyum yang sedikit gemetar.


Jika suatu hari kau mengingatku,

ingatlah aku sebagai seseorang yang pernah mencintaimu sepenuh hati.

Tanpa syarat, tanpa dusta.

Dan itu—bagiku—sudah lebih dari cukup.


Comments

Popular Posts